browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Sebuah Pelajaran Tentang Kecerdasan Hati…

Posted by on November 1, 2010

Cerita ini berlatar berlakang rasa salut saya pada salah satu rumah  makan fast food di suatu pusat perbelanjaan (Mall) di kawasan Jl Margonda Depok.

Seperti biasa tiap hari sabtu dan  minggu kami sekeluarga jalan jalan ke Mall sekedar melepas penat terutama kedua anak saya Rafi dan Rizki begitu riangnya bila hari keluarga tiba.

Saking lamanya di suatu mall kami terkadang melakukan sholat dluhur dan ashar di  mushola yang sudah disediakan pengelola Mall Setempat.

Termasuk hari Sabtu kemaren setelah menemani anak di Time Zone dengan main game Animal Kaiser, Rizki anak bungsu saya mengajak makan siang di fast food yg ada di D’Mall (Depok Mall) atau Golden Trully Jl Margonda Raya Depok yang baru saja selesai direnovasi.

Satu hal yang menyebabkan rizki begitu senang adalah bahwa dalam paket yang dijual oleh fast food tsb (M* D**a*d) selalu ada hadiah berupa mainan anak, nah tahu sendiri terkadang anak TK yang diiniginkan adalah mainanya bukan makanan.

Setelah memesan makanan (walaupun dengan antre) akhirnya saya dapatkan menu makanan yg diinginkan berikut hadiah mainan yang ditunggu tunggu oleh rizki anak saya.

Begitu semangatnya dia hingga dia segera terburu buru membuka hadiah tersebut, sambil makan dia coba memainkan mainan tsb, akupun sambil makan (maklumlah udah laper berat) mencoba memasang dan memainkkanya.

Sudah aku coba berkali kali dan dengan melihat petunjuk gambar yang ada di plastik pembungkus namun kok gak bisa juga yak….he he mungkin gak konsen abis perut laper kaleey….

Akhirnya aku coba tanyakan ke salah astu petugas cleaning servis di Resto tsb :

“Mas bisa tolong bantu gak ya…ni cara mainnya seperti apa”

Namun si petugas nggak jawab, dia terus mencoba mengutak atik kembali, namun dia juga gak bisa….

aku tanya lagi “gimana mas”, dia tetap diam sambil sesekali dia mencoba bicara tp suaranya kok gak jelas ya….

akhirnya dia masuk ke dalam kantor, mungkin nanya ke teman temanya barangkali atau mungkin menukar dgn mainan lain yg baru.

Sambil menunggu itu semua, anakku rizki gak henti hentinya memandang dan berharap agar mainanya baik baik saja.

My Wife-Rizqi-Rafi

Selang 10 menit kemudian petugas tadi balik lagi dan tanpa ngomong dia coba memperagakan cara memainkkanya, hanya dengan tangan saja dia memperagakan sambil menunjuk ke arah gambar petunjuk.

“iya ya mas tadi saya juga sudah seperti  itu, tp kok mainannya gak bisa ya”

tanyaku kemudian, “mungkin rusak ya mas”  istriku menambahi ” mas apa bisa ditukar dgn yg tidak rusak”  saya masih menunggu jawaban.

akhirnya diapun menjawab…dgn “ee …ee.eee…..eee…..ee…..ee….ee”  sambil sekali lagi dia memperagakan cara mmemainkkanya.

Aku dan istriku langsung terkejut seketika dan kamipun saling memandang,

ohh ternyata dia seorang tuna wicara….

begitu tahu dia tuna wicara langsung aku bilang

” oh ya mas terima kasih, gak pa pa kok nanti aku coba sendiri,…..makasih ya mas”

Wah aku salut dech ama manajemen M* D**a*d terutama HR System nya, mereka ternyata memperkerjakan orang yang secara fisik tidak sempurna untuk bisa bekerja di tempatnya, memang sebenarnya seorang cleaning service t idak akan berinteraksi langsung / bicara dengan customer, key performance indicatornya untuk seorang cleaning service adalah  kebersihan tempat dan meja kursi, jadi memang tidak dibutuhkan kompetensi untuk berbicara secara sempurna.

Setelah slesai aku  makan aku kok penasaran dan kucoba kembali apakah mainan itu benar benar rusak, aku coba pegas nya dengan memompa lebih lama agar tenaga dari pegas itu sempurna dan…it works mainan itu bekerja….jadi gak bisanya mainan itu karena harus dipompa pegasnya lebiih lama agar isi dan semua mainan bisa bergetar.

Rizki senang sekali melihat mainan barunya bisa bekerja, berikut gambar mainan tsb

Mainan Anak dari Paket Makanan

Menurut saya manajemen M* D**a*d mempunyai kecerdasan hati yang melebihi batas rata-rata, coba bandingkan dengan perusahaan lain yg pada saat rekrut harus mempunyai ijazah sarjana, penampilan menarik, menguasai disipkin ilmu tertentu dan bla bla bla….syarat syarat yg lain.

Masih banyak pelanggan fast food di Indonesia yang masih menjunjung tinggi norma dan nilai nilai kehidupan, tidak hanya seorang konsumen yang membutuhkan dilayani dengan sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun dari penyedia jasa makanan

Semisal saya, justru dengan melihat kondisi seperti itu ada rasa salut saya ke cara pelayanan M* D**a*d, sebagai konsumen saya sangat menghargai manajemen perusahaan tsb dengan mempekerjakan sesorang yg tuna wicara, apa artinya paket makanan seharga Rp 21.500 (itupun sudah mendapat burger + mainan anak) dibandingkan dengan nilai nilai perusahaan tsb dalam menghagai karyawannya.

Di era yang serba kompetitif ini justru resturant M* D**a*d mampu menampilkan nilai perusahaan kepada customer nya dan memiliki kecerdasan hati dalam mengelola SDM nya.

Terlepas bahwa resto fast food tsb milik Amerika, dan terlepas Amerika sangat mendukung Israel, di sisi lain saya juga harus “angkat topi” terhadap pengelolaan SDM nya

M* D**a*d you will be the winner of  the compettion

M* D**a*d you will be 1 st resturant in the world

YES  I’m sure…. you will be…

Semoga anda terinspirasi

Salam

2 Responses to Sebuah Pelajaran Tentang Kecerdasan Hati…

  1. Cak Supri

    kecerdasan pikiran (IQ, EQ dan SQ) perlu disinergikan dengan kecerdasan hati (dzauq, aql, qalb, shadr, fuad, bashirah dan lubb}. Uraian ini saya peroleh dari buku “Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *